Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernahku sesali itu
Seluruh jiwa telahku serahkan
Menggenggam janji setiaku

Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti

Bila…… rasaku ini rasamu
Sanggupkah engkau
Menahan sakitnya terhianati cinta yang kau jaga
Coba banyangkan kembali
Betapa hancurnya hati ini kasih.
Semua telah terjadi

Akhir – akhir ini di kantor ada temen yang sering memutar lagu di atas, milik group band kesukaan saya kerispatih. Bukan, bukan karena lirik lagu di atas yang sedang melanda perasaan dan hati saya. Ingat kerispatih mengingatklan saya pada masa – masa di mana saya jauh dari keluarga dan teman-teman dekat, pada saat saya sedang mencari jatidiri untuk menjadi seorang programmer.

Kebetulan waktu itu perusahaan pertama saya bekerja mendapatkan project system komputerisasi terpadu atau Sistem Keuangan Daerah Terpadu ( SIKEUDA ) serta Sistem Manajemen Barang Daerah ( SIMBADA) di kabupaten Siak, Riau. Siak ini adalah salah satu kabupaten terkaya di Indonesia, dengan pendapatan daerah di atas 1 triliun dari hasil minyak bumi. Perusahaan kami memenangkan lelang yang nilainya cukup besar untuk ukuran skala perusahaan konsultan IT. Walaupun masih kalah besar nilainya dengan system informasi KPU pada pemilihan umum tahun 2004 yang masih bisa di bobol hacker.

Sedikit flashback kebelakang,

Setelah di pastikan perusahaan kami yang memenangkan lelang, dan segala administrasi telah disiapkan untuk persiapan project, berangkatkan lah saya bersama 2 orang rekan dari cabang Jakarta untuk bergabung bersama teman – teman lainya dari Yogyakarta, Surabaya, Batam dan Pekan baru yang memang di tugaskan untuk ambil bagian dari project tersebut.

Perusahaan pertama saya bekerja ini berpusat di Batam dengan mengintensifkan project Sistem Infomasi untuk daerah – daerah atau kantor pemerintahan sekitar Sumatra dan kepulauan Riau seperti Otorita Batam, Sucofindo dan PT. Jamsostek. Sayapun sebenernya pada saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa sambil berkerja dan sedang dalam proses penyusunan skripsi dan terpaksa saya mengambil cuti untuk tidak melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman mengikuti project tersebut.

Buat saya semua ini adalah pengalaman pertama dan serba pertama kali, pertama kali kerja, pertama kali keluar kota dan pertamakali naik pesawat…. hehehehe.. Setelah sampai di bandara Sultan Kasim II saya dan 2 orang rekan di jemput bak seorang raja mafia, sampai – sampai pintu mobil pun di bukakan, fikir saya wah baru pertama kali ini saya di perlakukan seperti seorang pejabat, tenyata enak juga.

Di perjalanan menuju pelabuhan saya melihat – lihat suasana kota pekan baru, yang sebenarnya tidak bedanya dengan kota besar lainya seperti Jakarta walaupun kota ini lebih kecil dari Jakarta. Setelah 20 – 30 menit perjalanan saya pun sampai di pelabuhan, saya lupa nama pelabuhannya. Ternyata untuk menuju kabupaten siak, saya dan rekan harus menempuh perjalanan lagi, tetapi kali ini menggunakan speedboot melalui sungai siak, kira – kira perjalanan memakan waktu 2 jam lamanya.

Di dalam speedboot mungkin saya dan 2 orang rekan menjadi sorotan mata para penumpang speedboot lainya, bayangkan setiap ada kapal tanker pengangkut batu bara berpapasan dengan speedboot kami, kami pun saling berpegangan sekuat – kuatnya karena speedboot kami seperti ingin terbalik akibat guncangan ombak dari kapal tangker tadi, bagaimana tidak pegangan..! kata orang di sebelah saya, sungai siak ini adalah sungai terdalam di Indonesia. Dan saya lihat penumpang yang lainya tesenyum – senyum melihat saya dan teman saya saling berpegangan, mungkin buat mereka keadaan seperti itu sudah biasa,tetapi buat kami hal itu bisa membuat copot jantung kami.

Selang 2 jam kami pun sampai di pelabuhan siak, dan langsung menuju rumah yang memang di sewa untuk mengerjakan project tersebut. Kami menyewa 2 rumah yang memang cukup representative untuk bekerja, di sana sudah ada rekan – rekan lainnya yang sudah datang duluan, kalau di hitung – hitung team kami terdiri dari 10 orang.

Hari – hari kami berikutnya di isi dengan coding bercampur penat, stress, presure dari client yang kadang membuat kami saling tidak bisa menahan diri, kadang kata candaan yang sepele bisa membuat perang mulut, hal itu biasa terjadi tapi berkat kebersamaan dan senasib apalagi tanggungajwab yang besar, permasalahan sekecil apapun kami hadapi bersama dan menjadi bumbu buat kami, yang kadang ketika kami sedang santai itu menjadi bahan tertawaan buat kami. Yach seperti itulah yang namanya team saling support.

Di team kami ada mas budi beliau ini adalah manager project kami yang selalu meyiapkan segala kebutuhan dan keperluan kami, karena kami berada di daerah terpencil kadang mas budi ini setiap seminggu sekali kembali ke Pekan Baru untuk membeli kebutuhan kami seperti headset atau makanan yang tidak ada di siak atau kebutuhan project seperti document, baik kiriman dari Jakarta maupun pekan baru.

Banyak kendala selama saya berada di siak, terutama makanan, sangat sulit mencari makanan yang sesui dengan mulut dan perut. Di sana kebanyakan makanan nasi padang yang sebenernya makanan yang saya juga suka, tetapi entah mengapa agak sedikit beda nasi padang di siak, mungkin terlalu bersanten, ternyata hal tersebut dialami bukan saya saja, teman yang lain juga mengalami hal yang sama mengalami kendala dengan makanan. Untungnya ada pedagang pecel lele, jadi hampir setiap malam makanan pavorit kami adalah pecel lele atau pecel ayam, sedangkan di siang hari kami terbiasa makan nasi goreng di langgganan warung kami.

Kendala lainya adalah situasi, dimana tempat kami berada adalah daerah terpencil, buat saya yang terbiasa di Jakarta, mungkin kondisi siak menjadi asing buat saya, siak boleh di bilang baru 5 tahun pisah dari kabupaten bengkalis, jadi masih belum begitu ramai , walaupun pembangunan sedang giat – gitanya di lakukan, satu hal lagi yang jarang saya alami selama di Jakarta, ternyata di daerah terpencil seperti siak ini sering terjadi pemadaman listrik, bayangkan saja setiap hari itu bisa 5 kali padam listrik, dan kondisi ini sangat menggangngu saya dan teman – teman ketika coding.

Biasanya ketika sedang suntuk atau mengalami kepenatan saya dan teman – teman punya cara tersendiri untuk menaggulangi hal tersebut, kadang kami bermain bola untuk menghilangkan kejenuhan, tetapi saya biasanya lebih suka duduk -duduk di pinggir sungai siak sambil minum juise alpukat kesukaan saya, sambil melihat lalu lalang kapal tangker pengangkut batu bara, di sinilah saya sering menikmati lagu – lagunya kerispatih.

Entah mengapa saya suka dengan lagu – lagunya kerispatih, padahal kerispatih ini adalah group band baru yang baru pertama kali mengeluarkan album pada saat itu. Dan begitu mendengarkan lagi kejujuran hati yang merupakan hits pertama dari album pertamanya saya langsung jatuh cinta dengan group band ini, sampai sekarang pun di album keduanya saya suka dengan lagu – lagunya. Tetaplah berkarya kerispatih, ku tunggu album ketigamu, lagu – lagumu telah mengingatkanku pada suatu tempat yang pernah kusinggahi.

siak21.gif

Santai menghilangkan penat, di pinggir sungai siak sambil menikmati juice alpukat

siak221.gif

Hang out di pinggir sungai siak

siak23.gif

ketika sedang asik2nya coding, saya mendapatkan surpise dari temen2 pas jam 12 malem untuk merayakan ultah

siak24.gif

Target project baru 35 %, masih lama nich pulang ke Jakarta…hik..hik..hik…

siak25.gif

Sebelum diskusi, foto dulu ah.


Hanya kamu yang bisa by Kerispatih

Tiada pernah ku menyisakan lagi
Indahnya mawar merah menghiasi Taman hati
Tak kan sejuk air membasahi relung jiwa
Seakan semua sirna dari hidupku

Mungkin aku tak terlalu memilih
Pada siapa pintu hati ini ku buka
Tapi kamu wanita yang tak pernah kuduga
Mengetuk dinding hati yang lama tak terjamah

Hanya kamu yang bisa,
membuat aku mengakui ketulusan cinta
Hanya kamu yang bsia
Menenggelamkan kejenuhan dan rasa hampa
Cuma kamu yang bisa



2 Comments to “Memori Siak bersama Kerispatih”

  1. MemetBogi | August 16th, 2008 at 9:16 am

    Kalo Bang Yamin, punya pengalaman di rantau, saya tuker dengan pengalaman di Jakarta.

    Saya anak kampung datang ke Jakarta taon 96 silam. Biasa, mimpi punya kerja dan hidup layak. Tapi setelah kerja dan hidup layak dapet, saya jadi agak be-te. Kenapa?

    Jakarta makin padet, padahal ogut orangnya senengnya sepi-sepi.

    Lalu banyak sodara-sodara kalo libur pengennya ke Jakarte. Nggak papa si, tapi yaitu kalo semua maunya ke Jakarta, tentu ada yg minta dijemput di bandara, ditemuin di hotel ini-itu, minta diantar kesana-kesitu, minta dibelikan ini-itu. Walaaahhh..!

    Di ujung malam di sebuah masjid kecil, aku menangis pada yang punya MASJID, yah yang punya BUMI, Allah swt. Ya Allah manusia hanya punya rencana, begitu rencana terjadi, hatiku bergeser ke rencana kedua. Rencana keluar dari Jakarta.

    Aku tak tau ujung doaku, karena aku begitu lezat lewat jalan doa. Jalan yang mengantarkan aku sampai pada hari ini.

    Aku tau semua akan cepat berakhir, tapi aku masih bingung mengakiri doaku.

    Asholatu ghoiruh, asholatu ghoiruh, asholatu ghoiruh…

    Bapak tua berseru deket mimbar masjid.

    Ooo…aku harus solat malam, mengusap mata yang masih sembab.

  2. online | January 4th, 2010 at 8:18 pm

    sangat menarik, terima kasih

Leave a Comment